√ Metode Pembelajaran Discovery Learning | Pengertian, Ciri-Ciri & Jenis

  • admin
  • Agu 30, 2021

Metode pembelajaran discovery learning – Setiap metode pembelajaran pastinya memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Begitu pula dengan metode pembelajaran discovery learning, metode ini merupakan supaya siswa terbiasa untuk dilatih menjadi saintis (ilmuan). Serta juga dilatih dalam mengorganisasikan pemahaman tentang informasi secara mandiri.

Nah pada kesempatan kali ini catilmu.com akan membahasa mengenai apa sih itu metode pembelajaran discovery learning? Ciri-cirinya? Jenis-jenisnya? Serta lainnya yang masih berkaitan. Tanpa basa-basi lagi, yuk langsung pemahamannya.

Sebelum melanjutkan, yuk baca artikel terkait di bawah ini:

A. Pengertian Metode Pembelajaran Discovery Learning

Metode pembelajaran ini merupakan metode yang mengajar dalam mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga anak mendapatkan pengetahuan yang sebelumnya tidak diketahui olehnya dan tidak melalui pemberitahuan, sebagian atau seluruhnya didapatkan secara sendiri. Tidak hanya sebagai konsumen, tapi mereka juga berperan aktif dalam pencipta ilmu pengetahuan

B. Pengertian Metode Pembelajaran Discovery Learning Menurut Para Ahli

Berdasarkan beberapa pendapat yang diungkapkan oleh para ahli, menyimpulkan bahwa model pembelajaran merupakan suatu pola pembelajaran dari awal hingga akhir kegiatan yang tersusun secara sistematis serta digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Berikut beberapa pengertian model pembelajaran discovery learning yang telah dikemukakan oleh para ahli :

1. Kurniasih & Sani (2014 : 64)

Menurut pendapat Kurniasih & Sani, pengertian metode discovery learning merupakan proses pembelajaran dalam bentuk belum akhirnya, hingga diharapkan siswa mengorganisasinya dengan cara sendiri.

2. Sani (2014 : 97)

Menurut pendapat Sani, pengertian metode discovery learning merupakan penemuan konsep melalui serangkaian data atau informasi yang didapat melalui pengamatan atau percobaan.

3. Hosnan (2014 : 282)

Menurut Hosnan, pendapatnya mengenai discovery learning merupakan model pembelajaran yang mengembangkan cara belajar aktif, dengan menemukan serta menyelidiki secara mandiri, hasil yang didapatkan juga akan bertahan lama dan setia dalam ingatan. Dalam metode ini siswa juga bisa belajar analistis serta memecahkan masalahnya sendiri.

4. Wilcox (2014 : 281)

Menurut pernyataan Wilcox tentang metode discovery learning mengungkapkan bahwa siswa didorong dalam belajar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep serta prinsip-prinsip, dan guru juga menyemangati siswa dalam memiliki pengalaman serta melakukan percobaan yang memungkinkan dalam menemukan prinsip-prinsip mereka sendiri.

5. Asmui (2009 : 329)

Menurut pendapat Asmui, pengertian metode discovery learning merupakan metode yang mengembangkan cara belajar siswa aktif dengan menemukan dan menyelidiki sendiri. Hasil yang diperoleh tentunya akan tahan lama dan setia dalam ingatan, serta tidak mudah dilupakan oleh siswa.

6. Ruseffendi (2006 : 329)

Menurut pendapat Ruseffendi, pengertian metode discovery learning merupakan pengajaran yang diberikan oleh guru untuk siswa, sehingga siswa mendapat pengetahuan yang belum diketahui tidak melalui pernyataan guru, sebagian ataupun seluruhnya diperoleh secara sendiri atau mandiri.

7. Suryasubrata (2002 : 193)

Menurut pendapat Suryasubrata, pengertian metode discovery learning merupakan proses mental yang mana siswa dapat mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip. Proses tersebut adalah mengamati, mencerna, membuat penggolongan, menduga, menjelaskan, mengukur, kesimpulan dan lain sebagainya.

C. Ciri-ciri Metode Pembelajaran Discovery Learning

Model pembelajaran discovery learning memiliki tiga ciri-cirinya masing-masing, yakni :

  • Memecahkan serta mengeksplorasikan masalah dengan tujuan untuk membentuk, menyatukan, dan menggeneralisasi pengetahuan.
  • Berpusat pada peserta didik.
  • Kegiatan menggabungkan pengetahuan yang baru dan lama.

D. Karakteristik Metode Pembelajaran Discovery Learning

Terdapat tiga macam karakteristik dari model pembelajaran ini, antara lain :

  • Peran guru sebagai pembimbing
  • Para siswa berperan aktif sebagai ilmuan, peneliti, serta penemu.
  • Bahan ajar yang berbentuk informasi dan para siswa melakukan tindakan, menghimpun, membandingkan, menganalisis, dan membuat kesimpulan.

E. Jenis Dan Bentuk Metode Pembelajaran Discovery Learning

Pendapat Suprihatiningrum (2014 : 244) terdapat dua jenis cara dalam pembelajaran discovery learning yakni :

  1. Pembelajaran penemuan bebas (Free Discovery Learning) : Pembelajaran dengan tanpa adanya arahan atau petunjuk.
  2. Pembelajaran penemuan terbimbing (Guided Discovery Learning) : Pembelajaran dengan membutuhkan peran guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajarannya.

Sedangkan pendapat Oemar Hamalik (2009 : 187) bentuk dari metode pembelajaran ini dapat dilaksanakan dalam komunikasi satu arah atau komunikasi dua arah tergantung pada besar kelasnya atau tidak. Penjelasannya yang lebih detail sebagai berikut :

  1. Sistem satu arah : Sistem satu arah merupakan pendekatan berdasarkan penyajian satu arah yang dilakukan guru, penyajiannya untuk merangsang siswa melakukan proses discovery learning di depan kelas. Guru memberikan suatu masalah, lalu memecahkan masalah tersebut dengan langkah-langkah discovery.
  2. Sistem dua arah : Sistem ini menyangkutkan siswa dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan guru. Peserta didik atau siswa melakukan penelitian, sedangkan guru menuntun ke arah yang benar dan tepat.

F. Tujuan Model Pembelajaran Discovery Learning

Menurut pendapat Bell, metode ini memiliki tujuan melatih siswa untuk mandiri dan kreatif, berikut beberapa tujuan pembelajaran discovery learning :

  1. Keterampilan dalam keadaan belajar penemuan beberapa kasus, lebih mudah ditransfer untuk aktivitas yang baru serta mengaplikasikannya dalam situasi belajar yang baru.
  2. Beberapa fakta membuktikan bahwa keterampilan-keterampilan, konsep-konsep, serta prinsip-prinsip yang dipelajari lewat penemuan lebih bermakna.
  3. Lewat discovery learning membantu siswa untuk membentuk cara bekerja sama yang efektif, saling memberikan informasi, serta mendengar dan menggunakan ide-ide orang lain.
  4. Siswa belajar merumuskan strategi tanya jawab yang tidak campur aduk serta menggunakan tanya jawab dalam mendapatkan informasi yang bermanfaat.
  5. Melalui discovery learning siswa menemukan pola dalam situasi konkrit maupun abstrak, serta siswa juga banyak meramalkan (extrapolate) informasi tambahan yang diberikan.
  6. Siswa memiliki kesempatan terlibat dalam pembelajaran secara aktif.

G. Sintaks Atau Langkah-langkah Model Pembelajaran Discovery Learning

Dalam metode pembelajaran ini, terdapat beberapa tahapan untuk mengemukakan langkah-langkah model pembelajaran discovery learning, yakni sebagai berikut :

1. Langkah Persiapan

Dalam langkah persiapan di model pembelajaran discovey learning terdapat beberapa langkah, di antaranya sebagai berikut :

  • Menentukan tujuan pembelajaran.
  • Memulai identifikasi terhadap karakteristik siswa, mulai dari minat, kemampuan awal, gaya belajar, dan lain sebagainya.
  • Menentukan materi pembelajaran.
  • Memastikan topik-topik yang wajib dipelajari siswa secara induktif.
  • Mengembangkan bahan-bahan belajar berupa contoh-contoh, tugas, ilustrasi, dan lain sebagainya untuk dipelajari oleh siswa.
  • Melaksanakan penilaian proses dan hasil belajar siswa.
  • Mengatur topik pembelajaran yang sederhana ke kompleks, yang konkret ke abstrak, ataupun dari tahap enaktif, ikonik, sampai ke simbolik.

2. Langkah Pelaksanaan Terhadap Model Discovery Learning

Terdapat enam contoh pelaksanaan model discovery learning, adapun contohnya sebagai berikut :

a. Stimulation (stimulasi/pemberian rangsang)

Untuk tahap ini siswa dihadapkan pada sesuatu yang dapat menimbulkan kebingungan, lalu diteruskan untuk tidak memberi generalisasi agar muncul keinginan untuk menyelidiki serta meneliti sendiri. Guru juga dapat membuka kegiatan PBM dengan memberikan pertanyaan, anjuran membaca buku, serta kreativitas lainnya yang dapat menuju pada persiapan pemecahan masalah.

b. Problem Statemen (pernyataan/identifikasi masalah)

Dalam tahap ini guru memberikan kesempatan untuk siswa dalam mengidentifikasikan sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan terhadap bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis.

c. Data Collection (pengumpulan data)

Lalu tahap ini berfungsi dalam menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis, sehingga siswa diberikan kesempatan untuk mengumpulkan berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek, wawancara terhadap narasumber, melakukan uji coba sendiri dan lain sebagainya.

d. Data Processing (pengolahan data)

Pengolahan data atau data processing adalah kegiatan mengolah data serta informasi yang didapatkan oleh siswa baik itu melalui, wawancara, observasi, dan lain sebagainya, lalu ditafsirkan.

Dan dalam tahap ini berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi, dengan demikian siswa akan mendapatkan pemahaman baru dari alternatif jawaban yang perlu mendapat pembuktian secara logis.

e. Verification (pembuktian)

Pada tahapan ini peserta didik diharapkan melakukan pemeriksaan secara cermat terhadap pembuktian benar atau tidaknya hipotesis yang dipastikan tadi dengan temuan alternatif serta dihubungkan dengan hasil pengolahan data.

Sedangkan menurut Bruner, bertujuan untuk proses belajar berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan terhadap peserta didik dalam menentukan suatu konsep, teori, aturan ataupun pemahaman lewat contoh-contoh yang ia temui dalam kehidupannya.

f. Generalization (menarik kesimpulan)

Pada tahap ini merupakan proses dalam menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum serta berlaku terhadap semua kejadian atau masalah yang sama dengan melihat hasil verifikasi. Serta berdasarkan hasil verifikasi maka merumuskan prinsip-prinsip dasar generalisasi.

H. Kelebihan Dan Kekurangan Model Pembelajaran Discovery Learning

Berikut beberapa kelebihan dan kekurangan model pembelajaran discovery learning :

Kelebihan

Dalam pembelajaran discovery learning terdapat beberapa kelebihan, di antaranya yaitu :

  1. Membantu partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran.
  2. Menimbulkan rasa ingin tahu siswa.
  3. Menguatkan perkembangan beberapa keterampilan belajar sepanjang hayat dari siswa.
  4. Menjadikan pengalaman belajar menjadi lebih bersifat personal.
  5. Menjadikan siswa mempunyai motivasi yang tinggi karena telah memberi mereka kesempatan untuk melakukan eksperimen serta menemukan sesuatu untuk dirinya sendiri.
  6. Membentuk pengetahuan didasari pada pengetahuan awal yang telah dimiliki oleh siswa sehingga mereka dapat memiliki pemahaman lebih dalam.
  7. Meluaskan kemandirian serta otonomi pada diri siswa.
  8. Menjadikan siswa bertanggung jawab terhadap kesalahan-kesalahan serta hasil-hasil yang mereka buat selama proses belajar.
  9. Cara belajar orang dewasa pada pekerjaan dan situasi kehidupan nyata.
  10. Meluaskan keterampilan-keterampilan kreatif serta pemecahan masalah.
  11. Mendapatkan hal-hal baru yang menarik dan belum terbayang sebelumnya, setelah pengumpulan informasi serta proses belajar yang dilaksanakan.
  12. Suatu alasan dalam mencatat prosedur-prosedur dan temuan-temuan seperti mengulang-ulang kesalahan, untuk menganalisis apa yang telah terjadi, serta untuk mencatat atau merekam temuan yang luar biasa.

Kekurangan

Berikut beberapa kekurangan dari metode pembelajaran discovery learning :

  1. Terkadang terjadi kebingungan pada siswa ketika tidak adanya kerangka kerja atau semacamnya.
  2. Terjadinya miskonsepsi.
  3. Siswa yang kurang pandai memiliki kecenderungan untuk belajar di bawah standar yang diinginkan, serta guru sering kali gagal mendeteksi siswa semacam ini (mereka membutuhkan remidi atau scaffolding).
  4. Tidak efisien untuk mengajar siswa dalam jumlah banyak, karena membutuhkan waktu yang banyak dalam membantu mereka menemukan teori untuk pemecahan masalah lainnya.
  5. Harapan yang terpendam pada metode ini dapat buyar, karena siswa dan guru sudah terbiasa dengan cara lama.
  6. Tidak mempersiapkan kesempatan untuk berpikir yang ditemukan oleh siswa, karena telah dipilih oleh guru terlebih dahulu.
  7. Metode ini lebih cocok dalam mengembangkan pemahaman, sedangkan pengembangan aspek konsep, keterampilan, dan emosi secara luas kurang mendapat perhatian.

Mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan, semoga adanya artikel ini bisa menambah wawasan kalian. Demikian dari saya, Terimakasih 🙂

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *