√ Jenis Jenis Majas | Pengertian, Macam, serta Contohnya

Jenis jenis majas – Ilmu mengenai majas sendiri baru diperkenalkan dalam bangku Sekolah Menengah Keatas, yang mana tepat untuk kalian yang sedang mencari materi-materi mengenai majas sendiri. Secara garis besar majas dibagi lagi menjadi empat macam, dan juga terdapat lagi subjenisnya.

Empat macam tersebut yakni, majas perbandingan, majas pertentangan, majas sindiran, dan juga majas penegasan. Sedangkan subjenisnya sendiri memiliki banyak sekali jenisnya, namun dalam kesempatan kali ini catilmu hanya akan membahas 24 bagiannya saja. Berikut jenis-jenisnya.

Baca Juga: √ 9+ Jenis-Jenis Awan | Penjelasan, Gambar, Dan Berdasarkan Ketinggian

Baca Juga: √ 21+ Jenis-Jenis Metode Pembelajaran (100%) Terlengkap

Pengertian Majas

Pengertian Majas
pixabay.com

Pengertian dari majas merupakan gaya bahasa yang digunakan untuk sebuah karya sastra dengan maksud untuk menyampaikan sebuah efek-efek khusus sehingga terasa menjadi lebih hidup. Sifat dari majas itu sendiri merupakan tidak ada makna yang sebenarnya alias kias, atau bersifat konotasi.

Inti dari pengertian yang dimaksud merupakan sebagai gaya bahasa yang memiliki sifat kiasan dan juga dapat memberikan efek, karakteristik, serta makna tertentu dalam sebuah karya sastra.

Dalam pemakainnya pun mempunyai sebuah tujuan untuk menyampaikan sebuah pesan dengan imajinatif atau memiliki sebuah makna kiasa, sedangkan dalam fungsinya sendiri adalah untuk memperindah suatu karya sastra dalam segi diksinya.

Jenis-Jenis Majas Serta Ilustrasinya

Jenis-jenis dari majas sendiri dibagi menjadi 4 bagian garis besar, yakni majas perbandingan, majas pertentangan, majas sindiran, serta majas penegasan.

A. Majas Perbandingan

Majas Perbandingan
pixabay.com

Dalam majas perbandingan menggunakan gaya bahasa yang memiliki tujuan dalam membandingkan ataupun menyandingkan suatu objek dengan objek lain melalui proses menyamakan, melebihkan, maupun mengganti. Berikut ini beberapa sub jenis yang masuk dalam majas perbandingan.

1. Majas Personifikasi

Gaya bahasa ini memiliki makna seperti penggambaran benda mati yang seakan-akan hidup dan juga memiliki sifat layaknya manusia.

Contoh dari majas personifikasi:

  • Di malam yang indah ini, bulan tersenyum padaku, seakan mengikuti perasaan kebahagiaan yang memuncak di dadaku.
  • Daun kelapa itu seolah melambai kepadaku serta mengajakku untuk segera bermain di pantai.

Makna:
> Bulan sebagai benda mati yang tentunya tidak dapat tersenyum, tetapi dalam gaya bahasa tersebut seakan tersenyum seperti manusia.
> Daun kelapa memang merupakan benda mati, namun dalam gaya bahasa tersebut seakan-akan memiliki sifat manusia seperti melambaikan tangan.

2. Majas Metafora

Gaya bahasa ini memiliki makna seperti seakan meletakkan sebuah objek yang memiliki sifat yang sama dengan pesan yang ingin disampaikan dalam bentuk ungkapan.

Contoh dari majas metafora:

  • Pegawai tersebut adalah tangan kanan seorang manajer dalam sebuah perusahaan itu.
  • Zahira baru bangun ketika raja siang berada tepat di tengah-tengah langit.

Makna:
> Tangan kanan tersebut juga dapat memiliki makna sebagai orang di percaya.
> Raja siang yang dimaksud merupakan matahari yang berada di tengah-tengah langit.

3. Majas Asosiasi

Gaya bahasa ini memiliki makna seakan membandingkan dua objek berbeda, tetapi menganggap itu sama, biasanya penggunaannya menambahkan kata sambung seperti bagaikan, bak, layaknya, ataupun seperti.

Contoh dari majas asosiasi:

  • Rumah-rumah tersebut layaknya pinang dibelah.
  • Adikku bagaikan kura-kura dalam tempurung.

Makna:
> Kata pinang dibelah tersebut seperti memiliki bentuk yang hampir persis.
> Kura-kura dalam tempurung seperti orang yang menyendiri dalam kamarnya.

4. Majas Hiperbola

Gaya bahasa ini memiliki makna seperti mengungkapkan suatu hal dengan kesan berlebihan, bahkan sampai tidak masuk akal.

Contoh dari majas hiperbola:

  • Orang tersebut memeras keringat untuk dapat memenangkan perlombaan itu.
  • Wira dapat berlari menuju sekolahnya dalam sekejap mata.

Makna:
> Memeras keringat memiliki makna sebagai seorang pekerja keras.
> Sekejap mata memiliki makna sebagai sangat cepat.

5. Majas Eufemisme

Gaya bahasa ini memiliki makna seperti menggantikan kata-kata yang dirasa kurang baik/kasar/tidak sopan dengan padanan kata yang lebih baik ataupun halus.

Contoh dari majas eufemisme:

  • Setiap universitas serta perusahaan kini diwajibkan untuk menerima difabel.
  • Handi sering sekali izin ke toilet untuk buang air kecil.

Makna:
>
Kata difabel disini menggantikan kata orang cacat.
> Buang air kecil dapat juga menggantikan kata kencing.

6. Majas Metonimia

Gaya bahasa ini memiliki makna seperti menyandingkan nama, barang, atau istilah sesuatu untuk mengacu pada benda umum.

Contoh dari majas metonimia:

  • Untuk noda cepat menghilang ada baiknya gunakan vanish.
  • Agar haus cepat hilang, ada baiknya minumlah aqua.

Makna:
> Vanish disini merujuk kepada jenis merek pemutih, atau pembersih noda pada pakaian.
> Kata aqua juga dapat menggantikan kata air mineral dalam kemasan.

7. Majas Simile

Memiliki kemiripan dengan majas asosiasi, gaya bahasa yang digunakan memiliki makna menyandingkan suatu kegiatan dengan ungkapan.

Contoh dari majas simile:

  • Anak itu bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya.
  • Dua pasang muda mudi tersebut bagaikan Qais dan Laila yang sedang dimabuk cinta.

Makna:
> Contoh pertama seperti sedang merasa gelisah karena kehilangan ibunya.
> Contoh kedua seperti keadaan sedang dipuncak asmaranya.

8. Majas Alegori

Gaya bahasa ini memiliki makna seperti menyandingkan sebuah objek dengan kata kiasan.

Contoh dari majas alegori:

  • Mencari wanita sempurna bagaikan mencari jarum dalam tumpukan jerami.
  • Suami merupakan nahkoda dalam mengarungi kehidupan berumah tangga.

Makna:
>
Contoh pertama merupakan seperti berhati-hati dalam bertindak.
> Kata nahkoda memiliki maksud arti sebagai pemimpin keluarga.

9. Majas Sinekdok

Gaya bahasa dalam majas sinekdok terbagi dalam dua jenis, yakni sinekdok pars pro toto serta sinekdok totem pro parte. Untuk sinekdok pars pro toto memiliki gaya bahasa seperti menyebutkan sebagian unsur untuk menampilkan keseluruhan sebuah benda.

Contoh dari majas sinekdok pars pro toto:

  • Sejak kemarin mereka tidak kelihatan batang hidungnya.

Makna:
> Kata batang hidung mengacu pada individu secara utuh.

Sedangkan sinekdok totem pro parte memiliki gaya bahasa seperti menampilkan keseluruhan untuk merujuk pada sebagian benda ataupun situasi.

Contoh dari majas sinekdok totem pro parte:

  • Indonesia berhasil menjuarai All England hingga mencapai kedelapan kalinya.
  • Indonesia bertanding voli melawan Thailand.

Makna:
> Dari kedua diatas memiliki makna yang sama, yakni merujuk pada pemainnya saja.

10. Majas Simbolik

Gaya bahasa ini memiliki makna seperti membandingkan manusia dengan sikap makhluk hidup lainnya dalam bentuk ungkapan.

Contoh dari majas simbolik:

  • Perempuan tersebut memang persis seperti jinak-jinak merpati.

Makna:
Makna dari contoh diatas merupakan diibaratkan layaknya sifat merpati yang sangat jinak.

B. Majas Pertentangan

Majas Pertentangan
pixabay.com

Gaya bahasa yang digunakan dalam jenis jenis majas ini menggunakan kata-kata kias yang bertentangan dalam maksud asli oleh si penulis. Berikut beberapa subjenis dalam majas pertentangan.

1. Majas Litotes

Majas ini memiliki makna sebagai ungkapan untuk merendahkan diri, padahal fakta yang sebenarnya justru sebaliknya.

Contoh dari majas litotes:

  • Selamat datang di gubuk sederhana kami.
  • Silahkan nikmati hidangan ala kadarnya ini.

Makna:
> Kata gubuk yang dimaksud merupakan sebuah rumah.
> Kata ala kadarnya sebagai makna merendahkan diri, walaupun didepannya berbagai macam hidangan makanan.

2. Majas Paradoks

Majas ini memiliki makna sebagai membandingkan situasi yang sebenarnya dengan situasi sebaliknya.

Contoh dari majas paradoks:

  • Di tengah keramainnya ini, aku masih saja kesepian.
  • Badannya anak itu sangat kecil, tapi dia kuat sekali.

Makna:
> Seluruh contoh diatas merupaka situasi yang berpandang balik dari nyatanya.

3. Majas Antitesis

Majas ini memiliki makna sebagai memadukan sepasang kata yang memiliki arti bertentangan atau berlawanan.

Contoh dari majas antitesis:

  • Di desa, tua-muda hidup saling sejahtera.
  • Terdapat kelebihan dan kekurangan dalam fungsi ini.

Makna:
Kata tua-muda dan kelebihan-kekurangan merupakan sepasang kata yang memiliki makna bertentangan.

4. Majas Kontradiksi Interminis

Majas ini memiliki makna untuk menyangkal perkataan yang sebelumnya sudah disebutkan. Umumnya ditambah dengan konjungsi, seperti kecuali atau hanya saja.

Contoh dari majas kontradiksi interminis:

  • Seluruh masyarakat hidup sejahtera, kecuali mereka yang berada di perbatasan.
  • Semua murid boleh pulang dahulu, kecuali murid yang belum duduk rapih.

Makna:
Kedua contoh diatas merupakan penyangkalan yang sudah disebutkan sebelumnya.

C. Majas Sindiran

Majas Sindiran
Pixabay.com

Majas sindiran sendiri adalah kata kiasan yang bertujuan untuk menyindir seseorang ataupun perilaku dan kondisi. Majas ini sendiri dibagi lagi menjadi tiga subjenis.

1. Majas Ironi

Majas ini memiliki makna sebagai penggunaan kata-kata yang bersifat bertentangan dengan fakta maupun kenyataan yang ada. Majas ironi sendiri bisa dibilang majas sindiran halus.

Contoh dari majas ironi:

  • Ruanganmu sangat rapih dek, sampai-sampai kakak gak bisa tidur dikasurmu.
  • Pagi sekali datangmu, padahal jam istirahat sangat dekat sekali.

2. Majas Sinisme

Sama halnya dengan majas ironi, yang membedakan hanya saja sindirannya menjadi sedikit lebih kasar.

Contoh dari majas sinisme:

  • Badanmu sangat bau ih! tetapi kalau disuruh mandi sama ibu malah tidak mau.
  • Suaramu bagus sekali sampai telingaku berdenging dan sakit.

3. Majas Sarkasme

Untuk majas ini sendiri merupakan majas sindiran yang sangat kasa sekali, sehingga dapat membuat seseorang sakit hati saat mendengarkannya.

Contoh dari majas sarkasme:

  • Dasar tidak guna, kalau tidak bisa bekerja, keluar saja dari kantor ini!
  • Kamu tidak bisa mengerjakan soal semudah ini? dasar otak dungu.

D. Majas Penegasan

Majas Penegasan
Pixabay.com

Majas ini memiliki tujuan untuk meningkatkan pengaruh kepada pembacanya supaya untuk menyetujui sebuah ujaran maupun kejadian. Berikut ini beberapa subjenis yang berada dalam majas penegasan.

1. Majas Pleonasme

Gaya bahasa ini memiliki makna sebagai penggunaan kata-kata yang sama, sehingga terkesan tidak efektif, namun memang memilik tujuan sebagai menegaskan suatu hal.

Contoh dari majas pleonasme:

  • Seluruh kelas naik keatas untuk mengikuti pelajaran lab komputer.
  • Seluruh sekolah melihat perkelaian tersebut dengan mata kepala mereka sendiri.

Makna:
>
Kata naik sendiri memang sudah pasti keatas, bukan kebawah.
> Kata mata sendiri memang sudah jelas tanpa diberi kata kepala.

2. Majas Repetisi

Gaya bahasa ini memiliki makna sebagai pengulangan kata-kata dalam sebuah kalimat untuk penegasan ataupun menarik perhatian.

Contoh dari majas repetisi:

  • Dia pasti akan kembali, percaya aku! dia pasti akan kembali.
  • Rumah itu kebakaran, rumah itu kebakaran, cepat padamkan!

Makna:
Dua contoh diatas merupakan sebagai penegasan dan juga sebagai menarik perhatian.

3. Majas Retorika

Gaya bahasa ini memiliki makna sebagai penegasan dalam bentuk kalimat tanya yang memang tidak perlu dijawab.

Contoh dari majas retorika:

  • Kapan terjadinya harga barang kebutuhan pokok turun saat menjelang hari raya?
  • Kapan saat terjadinya tol mengalami kemacetan parah pada bulan puasa?

Makna:
>
Dari kedua contoh diatas, padahal tidak perlu dijawab pun masyarakt Indonesia pasti sudah mengetahuinya.

4. Majas Klimaks

Gaya bahasa ini memiliki makna sebagai mengurutkan sesuatu gagasan dari yang terendah hingga mencapai yang tertinggi.

Contoh dari majas klimaks:

  • Baik bayi, anak kecil, remaja, orang dewasa, hingga orang tua pun seharusnya memiliki perlindungan hak asasi manusia.
  • Semua keponakanku, saudara, paman, bibi, hingga nenek dan kakekku berada di rumahku untuk menginap.

Makna:
>
Bayi, anak kecil, remaja, orang dewasa, dan orang tua adalah urutan pertumbuhan manusia.
> Keponakanku, saudara, paman, bibi, nenek, dan kakek merupakan urutan dalam sebuah keluarga besar.

5. Majas Antiklimaks

Majas ini sendiri merupakan kebalikannya dari majas klimaks, yang membedakan adalah majas antiklimaks mengurutkan gagasan dari tingkat tinggi mencapai tingkat rendah.

Contoh dari majas antiklimaks:

  • Setiap hari senin, mulai dari kepala sekolah, guru, staf, hingga siswa diwajibkan untuk mengikuti upaca bendera di lapangan.
  • Hingga kini kekeringan masih melanda di seluruh penjuru kota, desa, hingga dusun.

Makna:
>
Kepala sekolah, guru, staf, dan siswa merupakan urutan kedudukan dalam lingkungan sekolah.
> Kota, desa, dusun adalah urutan dalam populasi manusia.

6. Majas Pararelisme

Gaya bahasa ini memiliki makna sebagai perulangan kata dalam berbagai definisi yang beda, majas ini biasanya berada dalam sebuah puisi. Jika perulangan katanya berada diawal disebut anafora. Namun sebaliknya, jika perulangan katanya berada diakhir kalimat, epifora lah namanya.

Contoh dari majas pararelisme:

  • Mereka boleh saja memburuku.
  • Mereka boleh saja membakarku.
  • Mereka boleh saja menghabisiku.

7. Majas Tautologi

Gaya bahasa ini memiliki makna sebagai penggunaan kata-kata bersinonim sebagai penegasan dalam sebuah kondisi maupun ujaran.

Contoh dari majas tautologi:

  • Sejarah dari kota tersebut sangat seram, angker, dan sadis.
  • Jiwaku seakan terasa ceria, riang, dan bahagia ketika kamu berada disampingku.

Makna:
>
Kata angker dan sadis merupakan kata sinonim dari kata seram.
> Kata riang dan bahagia adalah gambaran yang sama dari kata ceria.


Dengan memahami majas-majas diatas semoga dapat menambah pengetahuan kalian akan ilmu ini. Dari semua majas yang diatas, majas apa yang pernah kalian alami selama hidup?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *